Entri yang Diunggulkan

Bertaubatlah...Sungguh Allah Maha Pengampun dan Penerima Taubat

Tulisan ini sengaja saya buat sebagai nasehat untuk diri saya pribadi. Di kemudian hari ketika kelak saya kembali membuka lembaran blog ini,...

Kamis, 22 Maret 2018

Pengalaman Belajar Kreativitas di IIP

MasyaAllah materi level 9 kelas Bunda Sayang IIP kali ini sangat menarik. Kenapa? Karena materi inilah yang seringkali menjadi kendala bunda-bunda dalam membersamai anak-anak mereka ketika proses bermain dan belajar.

Anak-anak lahir dengan kemampuannya yang luar biasa dari Sang Pencipta, termasuk kreativitas. Namun,  saat melihat tingkah laku anak-anak, terkadang orang tua sendiri yang KO  duluan menghadapi sudut pandang mereka yang sungguh di luar cara berpikir kita yang mungkin terlalu biasa, hehe.

Maka,  kini saatnya mulai berpikir out of the box.  Berpikir dengan sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang.  Karena anak-anak kita mungkin memiliki kaca mata super yang jauh lebih canggih dibanding kacamata 'biasa' kita sebagai orang tua jaman Old.

Merekalah anak-anak jaman Now yang harus kita dampingi dengan segala potensi yang kita miliki. Dengan waktu, tenaga, pikiran dan tentu saja doa kita.

Anak-anak kita telah terlahir kreatif,  sisa kitalah orang tua yang harus berupaya menjadi lebih kreatif dibandingkan anak-anak kita.  Yuk,  semangat bunda-bunda semua....

Referensi :
-Slide presentasi kuliah bunda sayang, think creative
-Hasil diskusi kelas bersama tim fasilitator

#kelas bunda sayang
#institut ibu profesional
#think creative

Tantangan 10 Hari Kelas Bunda Sayang: Think Creative #day1

Bismillah. Alhamdulillah  akhirnya tantangan level 9 kelas Bunda Sayang dimulai. Hari ini saya mencoba mereview kembali hasil diskusi materi 9 tentang kreativitas sebelum memulai melaksanakan tantangannya.
Ternyata anak-anak kita telah lahir dengan membawa kreativitasnya sendiri tapi kitalah orang tua yang sering menghambatnya.  Ini yang menjadi patokan saya untuk menjalani tantangan kali ini.
Ziyad dan Nusaibah hari ini kembali meminta memainkan HP dan hal ini selalu terjadi berulang kali dalam sehari. Padahal efek HP buat anak seusia mereka tidak terlalu baik terutama untuk kesehatan mata dan perkembangan mental mereka. 
Saya pun mulai berpikir bagaimana cara untuk mengalihkan perhatian mereka. Kebetulan kami sedang pulang kampung ke rumah neneknya. Jadi, disini banyak mainan adek yang baru berusia 7 tahun dan saya arahkan anak-anak untuk beralih ke permainan tersebut.
"Wah, kakak Nisa punya mainan banyak.. Bagus bagus. Ayo kita main main yuk" kataku mulai mengalihkan perhatian keduanya
Ziyad alhamdulillah langsung teralihkan saat melihat keranjang mainannya tapi tidak demikian dengan adeknya.  Awalnya Nusaibah masih terus merengek minta HP,  tapi setelah kakaknya Ziyad mengeluarkan satu per satu mainan dari keranjangnya,  akhirnya dia mau bermain bersama kakaknya.
Permainan yang mereka mainkan antara lain:
Ziyad sibuk bermain raket plastik dan mengayunkannya seperti sedang bermain bulu tangkis, lalu setelah bosan,  dia mengambil mainan hewan-hewan dan saya arahkan untuk menyebutkan nama hewan tersebut satu persatu. Tak lama,  dia bosan lagi dan dia bermain sendiri dengan memukul mukul mainan yang ada sehingga menghasilkan bunyi yang tidak beraturan, hehe.
Nusaibah awalnya bermain gitar plastik yang sudah rusak bagian pegangannya, tapi tak lama dia bosan lalu lanjut bermain boneka.  Bonekanya dia bedaki sampai putih semua badannya,hehe. Tak lama,  dia bermain lompat lompatan di kasur busa yang ada dikamar.
Alhamdulillah mereka jadi melupakan hp tadi saat bermain. Tapi, di waktu yang lain,  mereka kembali meminta hp tersebut. Akhirnya saya katakan,  hari ini belum bisa main hp karena belum waktunya.  Nanti kita main hp hari sabtu dan ahad.
Kakak  Ziyad sudah bisa mengerti tapi adiknya terus saja meminta. Jadi, saya sembunyikan hp dan tidak memperlihatkan kepada mereka hampir seharian ini kecuali dalam kondisi sembunyi sembunyi tanpa terlihat oleh mereka. 
Mungkin ini jalan terbaik agar mereka bisa teralihkan untuk bermain HP dan bisa fokus mengembangkan kreativitas mereka melalui kegiatan bermain. Aamiin.
#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Selasa, 06 Maret 2018

Hujan: sebuah perenungan atas rezki

Bismillah. Hari ini saya melakukan perjalanan ke puskesmas.  Seperti biasa perjalanan selalu membawa banyak pelajaran dan hikmah di balik setiap episodenya. Setiap kali saya ke puskesmas, banyak hal yang saya renungkan.  Tentang kehidupan, tentang dunia, tentang kematian dan juga masa depan akhirat yang kekal. Mungkin karena terkadang masih ada perasaan berat setiap kali akan meninggalkan rumah untuk menjalankan tugas negara.  Berat karena harus meninggalkan anak anak dan keluarga yang membutuhkan perhatian dari saya. Tapi, hati harus selalu siap dengan konsekuensi dari sebuah pilihan.
Terkadang saya mencari-cari alasan untuk menenangkan diri. Di momen ketika melakukan perjalanan inilah saya senantiasa menata hati untuk ikhlas dalam bekerja. Karena ini adalah jalan yang saya pilih dan profesi yang menjadi bagian dari hidupku. Positive thinking selalu saya kedepankan kembali ketika rasa malas datang menggoda.
Saya melihat awan yang cerah dan tidak mendung seperti biasanya. Musim hujan belum lalu tapi ternyata awan cerah alhamdulillah masih bisa saya rasakan dalam perjalanan ini.
Perenungan kali ini saya melihat setiap orang yang ada di jalan.  Mereka semua beraktivitas sesuai dengan pekerjaan dan kesibukan hariannya masing-masing.  Tak ada yang merasa sedih dan marah karena semua bersemangat dalam menjemput rezekinya.  Mereka beraktivitas dengan ikhlas dan tanpa keluhan. Layaknya bumi yang tak pernah mengeluh ketika hujan turun, karena hujan tersebut adalah rezki yang tak ternilai harganya.  Hujan yang merata dan menjadi rezki bagi setiap makhluk baik yang meminta maupun tidak memintanya. Begitupun manusia yang selalu berusaha dan bertawakkal. Mereka akan dengan senang hati menerima rezki yang diberikan oleh RabbNya tanpa banyak mengeluh dan merasa susah. Rezki yang terkadang datang tanpa kita minta ataukah memang kita memintanya secara khusus.
Asalkan ikhlas dalam bekerja,  maka semua akan terasa mudah. Tanpa kita minta saja,  Allah selalu memberikan rezki yang tidak terhitung banyaknya.  Apatah lagi ketika kita dengan sungguh sungguh berdoa di setiap sujud kita. Ketika menghadapNya, kita senantiasa memohon rezki yang terbaik.  Hujan saja turun kepada setiap tempat tanpa diminta, maka Allah pun juga memberikan nikmatNya kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka,  tak ada gunanya mengeluh atas setiap takdir yang terjadi, tapi justru sebaliknya, kita harus banyak bersyukur atas segala nikmatNya.
Hal inilah yang membuat saya kembali bersemangat dalam bekerja. Menjalani profesi yang banyak diidam-idamkan oleh orang banyak. Profesi yang banyak diincar dan menjadi favorit pendaftaran di universitas. Profesi yang kata orang begitu mulia karena memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi. Profesi yang memang dari dulu selalu saya impikan.  Walaupun setelah menikah dan memiliki anak, momen bersama anak senantiasa saya rindukan dibandingkan harus berkutat kembali dengan aktivitas profesi yang menyita banyak  waktu, tenaga dan pikiran.
Tapi,  setelah merenungkan setiap yang terjadi pasti ada hikmahnya. Begitupun apa yang menjadi takdir saya sebagai seorang dokter.  Ini adalah sebuah ketentuan yang sudah menjadi takdir. Pasti Allah menginginkan kebaikan dari apa yang diberikan kepada hambaNya. Harus bersyukur dan bersabar ketika kesulitan dan rasa malas datang menerpa. Banyak orang yang ingin menjalani profesi ini tapi Allah justru memilih diri yang lemah ini. Pasti Allah menilai bahwa saya mampu untuk melewatinya dengan izin dari Nya.  La HauLa walaa quwwata illa billah.
Jalani semua aktivitas dengan ikhlas dan sabar. Berdoalah,  lalu berusaha dan bertawakkal, insyaAllah akan ada kemudahan dalam setiap pekerjaan yang kita jalani.

#RumbelMenulis
#IPSulawesi
#ChallengeMaret
#Hujan